Rabu, 11 Mei 2011

Amang Oii… “AIR MATA BUNDA”

Setahun lalu, hati seorang ibu begitu terluka tatkala mendengar berita via telepon dari sebuah rumah sakit di Jakarta, luka itu semakin menganga ketika sesampainya di rumah sakit menjumpai anak sulungnya terkapar tak berdaya bersimbah darah, akibat kebrutalan sadis pelajar SMK Karya Guna. Agaknya wajah pendidikan kita sudah sedemikian menyeramkan, trend perkelahian pelajar sudah tak bisa disebut dengan “kenakalan pelajar” lagi, namun lebih tepat disebut gemar melakukan “Tindak Pidana Penganiayaan”. Pelajar sudah berubah bringas, dengan bangga mereka mempertontonkan aksi tawuran ala premanisme. Senjata tajam sudah menjadi bagian dari perlengkapan sekolahnya, ironisnya dengan berlindung dibalik status pelajar terkesan ada kemakluman buat mereka. Dekadensi moral dan etika sedemikian parah menyusup prilaku sebagian besar generasi bangsa Indonesia yang disebut pelajar. Salahkah “Sistem Pendidikan” kita, atau adakah hukum buat pelajar peserta tawuran di negeri ini?.
SBN edisi ini menulis kebiadaban seorang pelajar SMK Karya Guna, Manggarai Tebet Jakarta Selatan dalam judul “AIR MATA BUNDA”, yang ditulis oleh seorang ibu untuk mengenang putra sulungnya yang wafat oleh celurit sang pelajar SMK Karya Guna, Maret 2010 lalu. Tulisan ini diharap menjadi catatan buat Menteri Pendidikan Nasional, Pendidik dan Pengajar, Sekolah, Pelajar serta para penegak hukum di negeri ini, agar jangan ada lagi toleransi yang diberikan buat pelajar sadis dan pelajar peserta tawuran.
….Aku seorang ibu yang sangat menyayangi ke-empat buah hatiku, kami sekeluarga hidup sederhana, begitu harmonis dan sangat bahagia. Kami saling menyayangi, terutama si sulungku AA NOUVAL, begitu biasa kami memanggilnya. Kami selalu curhat, begitu banyak cita-cita yang ada dalam benak si sulungku AA.
Hingga di hari Senin, 8 Maret 2010, jam 12.30 WIB, suara seorang dokter dari sebuah rumah sakit menelepon dan memberi kabar bahwa AA NOUVAL terkena musibah dan sekarang ada di Rumah Sakit SIAGA. Mendengar berita itu, mentari yang begitu cerah tiba-tiba redup dalam pandangku, jantungku begitu keras berdebar, badanku lemas, tak terasa air mataku berderai tanpa henti, hingga akhirnya kudapati anakku bersimbah darah terkapar di peraduan rumah sakit.
Tanpa salah dan dosa, anakku telah di celurit oleh siswa SMK Karya Guna yang bernama Dicky Nur Ubaidilah alias Cacing. Aku berusaha sabar dan banyak berdoa agar anakku diberi kesembuhan dan dapat berkumpul lagi bersama adik-adiknya, bersamaku dalam keceriaan sambil merajut masa depan yang dicita-citakannya. Begitu perih dan pedih bathinku menyaksikan perjuangan untuk bertahan hidup anakku dalam menahankan rasa sakitnya.
Hingga akhirnya Sabtu, 13 Maret 2010, dokter memanggilku dan mengatakan bahwa anakku telah meninggal dunia, langit begitu gelap, kakiku serasa tidak mencecah bumi, aku begitu tidak percaya, kubangunkan anakku dari tidurnya, berkali-kali kusebut namanya, aku berharap ia tidak pergi sedemikian cepat meninggalkan aku, kulihat jelas matanya yang terpejam dengan wajah yang pucat pasi, denyut jantungnya tak terdengar lagi, kuciumi hidung mancungnya yang menjadi begitu dingin…. ternyata anakku telah benar-benar pergi meninggalkan aku…. ‘tuk selamanya.
Hancur harapanku, pedih dan perih, duka nestapa semua kurasa, hingga kuingin pergi menyusulnya, bila tak ingat ke-tiga buah hatiku yang masih butuh bimbinganku, ingin rasanya aku bunuh diri.
Hingga saat ini aku selalu merindukan AA NOUVAL, sulungku, buah hatiku. Buku pelajarannya masih tertata rapi, sepatu dan tas sekolahnya pun masih kusimpan, aku selalu ingat kata-kata terakhirnya,….”Mama….simpan HP AA ya mah….kalau terjadi sesuatu sama AA, mama harus sabar, Tawakaltu Alauloh, lahaulawalakuwata illabillah”…. Itulah yang anakku ucapkan untukku dan untuk terakhir kalinya. Ia harus pasrah menutup usia dalam kemudaannya.
Aku selalu merindukannya, disetiap detik dan setiap hembusan nafasku, hidupku terasa hampa, kebahagiaanku tak seperti dulu lagi. Ditambah lagi pihak kepolisian terkesan lamban sehingga sampai saat ini belum juga berhasil menangkap pembunuh anakku. Padahal identitas, saksi dan bukti hingga Daftar Pencarian Orang (DPO) sudah ada dan jelas, entahlah…sudah setahun lebih pembunuh itu belum juga ditangkap, mungkin ia lebih tangguh dibanding Gayus Tambunan.
Aku hanya bisa berpesan untuk si pembunuh bercelurit dan para pelindungnya…”kalian bukan hanya membunuh AA NOUVAL, tapi kalian juga telah membunuh bayi yang ada dalam kandunganku, sungguh kalian sudah sangat menzalimi aku, seorang ibu yang harus kehilangan 2 buah hatinya karena kejahatan yang kalian lakukan!!!!! Mungkin di dunia ini kalian bisa bersembunyi dariku, tapi tidak di akhirat dan tidak juga untuk Allah, aku yakin suatu saat nanti Allah akan mengabulkan doa ku”…Amiin…Ibunda AA NOUVAL, Rahmawati.

puisi buat bunda nouval :

Selamat Tinggal Mama

Bila usiaku hanya sampai esok…mama
Tulis namaku diatas nisan yang dipahat
Dan tancapkan juga pohon kamboja disana…

Barisan pujian ampun pada Tuhan…jangan lupakan, mama
Pujian bersama angin dimalam sepi
Gemakan dzikir di qalbumu dengan ikhlas
Mungkin disana ada jawabnya
Mengapa Polisi belum dapatkan “dia”
Aku rela menghadap Tuhan dalam kemudaan……

Bila usiaku hanya sampai esok…mama
Baringkan aku dengan ikhlas…tanpa air mata
Tempatkan aku di pekuburan ujung sana……

Selamat tinggal semua yang kukasihi…
Sampaikan pesanku pada Polisi dan negeri ini bahwa
………aku bukan dalam barisan pelajar brutal…cita ku kandas di celurit “dia”
Tuntaskan rasa penasaran mama atas kepergianku
Selamat tinggal mama
Usia bukan aku punya…aku kembali kepada-Nya, ketempat asal yang abadi

M e i, ‘11
By : drg. T o n y

Tidak ada komentar:

Posting Komentar